Menulislah Tanpa Berpikir

Jumat, 14 September 2012 | komentar


Menulis itu tidak perlu berpikir. Kalau berpikir bisa-bisa tidak jadi menulis.

"Aduh...! Ada lagi !...Sebelum ini bilang kalau nulis jangan pakai perasaan...Ok, bisa dipahami bahwa beda antara menuliskan perasaan dan menulis dengan perasaan. Lha kalau menulis tanpa berpikir bagaimana bisa? Bagaimana mungkin orang menulis tanpa dipikir? Bagaimana caranya?!?"

Yang memang seperti itu...Orang yang terlalu memikirkan apa yang akan ditulis akan lama sekali untuk mulai menulis, dan pada akhirnya tidak jadi menulis. Mau nulis fiksi memikirkan genrenya apa...Mau nulis artikel masih berpikir  artikel tentang apa. Mau nulis puisi lama memikirkan dan mencari rimanya.

Mau mulai menulis sudah berpikir bagaimana menjual bukunya. Mau mulai menulis sudah berpikir panjang ukuran font, paragraph, dan ukuran halamannya.

Menulis itu ya menulis aja...Jangan dipikirkan apa dan bagaimana menuliskannya.

"Lha kalau gak dipikir, apa yang ditulis dong!?!?"

Ya tuliskan saja apa yang ada di pikiran. Semua orang itu khan pasti sudah berpikir sesuatu, pikirannya sudah terisi, tuliskan saja yang ada, apa adanya. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi orang pasti bertemu dengan sesuatu yang membuatnya berpikir, setiap hari, tujuh hari seminggu, dan 365 hari setahun. Bayangkan sebanyak apa isi pikirannya? Itu semua ungkapkan, salurkan dalam tulisan, tuliskan semua.

Berapa orang teman kita? Sejak kita punya teman sampai saat ini. Teman-teman sebanyak itu memiliki karakter yang berbeda. Mau atau tidak, disengaja atau tidak, semua karakter, sikap teman-teman kita itu masuk ke dalam pikiran. Kalau kita tuliskan semua masing-masing karakter teman-teman kita, bayangkan sudah jadi buku setebal apa? Tanpa perlu kita pikirkan buku jenis apa jadinya nanti, tuliskan saja dulu...

Tuliskan saja apa yang bisa ditulis. Kalau sudah ditulis semua, baru mulai berpikir untuk langkah-langkah berikutnya. Bila sudah tertuang dalam bentuk tulisan baru mulai dipilah dan ditentukan termasuk jenis tulisan apa. Saat sudah memiliki karya yang tertulis, bisa dipikirkan serius strategi selanjutnya, siapa-siapa yang bisa dihubungi untuk konsultasi menyempurnakan karya. 
Share this article :

Poskan Komentar